aku dikunjungi oleh seorang ibu-ibu.
Menawarkan jasa melulurkan tubuh dengan ramuan racikan beliau sendiri.
Sebenarnya aku sudah tertarik untuk membeli jasa beliau dari kemarin.
Seingatku isi dompetku masih cukup untuk membayar dan kebetulan kuliah pagi itu diliburkan.
Jadi aku ambil saja tawaran tersebut dengan membayar Rp25 ribu untuk sekali lulur.
Selama aku dilulur, sering ku ajak beliau berkomunikasi.
Lebih banyak beliau bercerita tentang profesi saat ini.
Hingga aku mengerti bahwa beliau ternyata tak bisa membaca tulisan (buta aksara).
Karenanya beliau tak memiliki handphone untuk berkomunikasi.
Ditunjuki tentang daerah letak rumah beliau, aku tak mengenal daerah tersebut (meskipun masih dalam satu kota).
Akhirnya aku pun minat untuk bernego dengan beliau.
Atas dasar karena aku bersedia mengantarkan beliau ke daerah yang berpotensi besar akan menggunakan jasa beliau.
Kesepakatan akhirnya adalah aku hanya membayar jasa beliau dengan harga Rp100 ribu untuk 4 kali luluran dan sekali bonus luluran.
Sebelum ku sepakati, ada beberapa pertimbanganku.
Aku barusan saja mengenal beliau, tak ku ketahui alamat jelas rumah beliau, dan tak ada nomor kontak yang bisa ku hubungi.
Kemudian terfikirkan olehku,
bagaimana jika beliau berniat menipu sehingga beliau mengiming-imingiku bonus?
Namun aku tetap menjalin kesepakatan itu.
Bayaran kontan langsung ku berikan setelah selesai dilulur.
Lalu pertanyaannya, mengapa aku menyepakati negosiasi tersebut?
Mengapa aku mengambil keputusan gegabah dan beresiko ditipu tersebut?
Ingatlah akan kalimat ini :
"Kepercayaan akan dibentuk oleh kepercayaan."
Itulah alasanku mengapa mengambil tindakan tersebut.
Aku ingin mempercayai orang lain.
Hingga aku dapat dipercayai oleh orang lain.
Tak peduli apapun alasannya, asalkan masih dapat ditolerir nalar akal.
Aku ingin memberi kesempatan pada orang lain untuk dapat ku percayai.
Tak ada salahnya.
Karena hal tersebut (kepercayaan-red) dapat membantu memperkuat kepribadian yang sedang dibangun seseorang.
Oleh karenanya mengapa aku mau bertindak 'bodoh' layaknya seperti orang yang terkena hipnotis.
Ujilah seseorang dengan sesuatu dengan yang sangat baik atau dengan yang sangat buruk.
Maka disitulah letak titik maksimum perilakunya (baik atau buruk-red).
Karena seseorang yang diberi reward cenderung akan mudah merubah sifat aslinya atau bahkan memunculkan sifat aslinya.
Tinggal kita bandingkan saja dengan perilaku yang tidak diberi reward bahkan berupa punishment.
Jika anda adalah seorang yang bijak dan terbuka, maka dengan mudah anda akan dapat menyimpulkan.
0 comments:
Post a Comment
Be a good commentators
Tell me if there is something wrong with this post