Suatu ketika kita dihadapkan dengan situasi dimana terdapat orang-orang yang individualis.
Interaksi perlu, namun bagaimana jika terdapat kendala saat akan memulai menjalin sebuah interaksi?
Maka kita yang harus menyiasati cara kita berinteraksi kepada orang-orang tersebut.
Bagaimana strateginya?
Flashback penulis dari masa SMA.
Pernah hidup di lingkungan pondok pesantren.
Rasa kekeluargaan sungguh tercipta di sini.
Namun ketika ada seorang atau sekelompok santri bersikap individualis, maka bersiaplah menghadapi kesulitannya sendiri. Misalnya saja, tidak mau makan bersama dalam 1 wadah, tidak mau meminjamkan setrika, atau bahkan tidak mau berbagi makanan (baca: pelit).
Model santri seperti ini kebanyakan akan dijauhi, dan saat mereka memerlukan bantuan tak banyak yang akan membantunya.
Santri-santri menganggap hal ini sebagai pelajaran untuk 'yang individualis'.
Mereka bahkan cenderung tidak terlalu akrab dengan orang-orang ini.
Namun seiring berjalannya waktu.
Kejelekan seseorang dengan individualisnya akan semakin berkurang, karena kesadarannya masing-masing.
Mungkin, mereka juga merasa tak nyaman dengan lingkungan yang tidak komunikatif.
Kemudian dengan sendirinya terciptalah interaksi yang baik.
Meskipun di pesantren ini sistem 'perkamaran' kurang mendukung, seperti satu kamar hanya cukup diisi oleh 4-5 santri.
Padahal sistem 'perkamaran' yang lebih efektif (biasanya dimiliki oleh pesantren besar dan pesantren salaf), sebuah kamar yang luas cukup diisi 20-30 santri, bahkan lebih.
Tetapi hubungan sosial dalam lingkungan ini tetap terjalin dengan baik.
Karena mereka memahami makna hidup bersama, meskipun berada dalam lingkungan yang kurang kondusif akibat berkumpul dengan banyak orang dalam satu ruangan (tempat).
Lalu, apa yang ingin saya sampaikan dari cerita kecil di atas?
Pada interaksi sosial, komunikasi adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh pelakunya.
Namun di sinilah kendala yang sering terjadi.
Sulit untuk menjalin komunikasi yang baik.
Umumnya, seseorang jika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, sikap yang diberikan pada lawannya itu akan front (bersikap yang bukan sifat aslinya).
Misalnya.
Sebagai mahasiswa baru, ada orang-orang yang cenderung terlihat pendiam.
Padahal sejatinya mereka tergolong orang yang sanguis (periang, bersemangat, dsb).
Kebanyakan mereka melakukan hal demikian untuk menghindari kesan buruk pada perkenalan lingkungan barunya.
Atau sebaliknya, mereka akan bersikap ramah, suka bercanda, dan sebagainya, saat berada di lingkungan berbeda (misalnya, rumah) maka sifat yang dimunculkan akan berbeda.
Mungkin akan berubah menjadi seorang yang pendiam, bahkan bersifat antagonis.
Biasanya, saat mereka telah berbaur dengan lingkungannya, barulah terlihat sifat aslinya.
Hal ini sangat bergantung dari lingkungan sosialnya.
Selanjutnya lingkungan kost.
Penghuni baru akan cenderung menutup diri terhadap penghuni lain.
Meskipun telah tinggal cukup lama, mereka tetap akan sulit saling berbaur.
Misalnya. (pengalaman Saya)
Ketika memasuki lingkungan kost (untuk yang pertama kali), banyak harapan untuk bisa berbaur yang baik dengan penghuni lain.
Namun seiring waktu berjalan, tetap tidak ada perubahan interaksi yang baik antar penghuni kost.
Baik antara Saya - penghuni lain, maupun antar penghuni lain - penghuni lain.
Seringkali dijadikan alasan adalah jadwal kuliah yang berbeda-beda.
Sebenarnya jika ditilik lebih lanjut, ini bukanlah hal mutlak sebagai faktor penyebabnya.
Oleh karena di kost ini, tak ada kamar mandi tiap kamar, hanya ada 2 kamar mandi umum.
Secara tak langsung, harusnya tetap ada interaksi di sini karena tempat ini selalu digunakan bersama oleh penghuni-penghuni lain.
Lalu yang mengherankan, mengapa masih sulit terjadi interaksi?
Ternyata, hal itu tak cukup dikatakan sebagai kendala.
Struktur bangunan pun dapat menjadi kendala (mata kuliah : Psikologi Lingkungan).
Misalnya, bangunan kost yang berbentuk U sebagai center of activity in the kost akan lebih efektif dan cenderung tercipta suasana komunikatif.
Karena pasti interaksi akan selalu terjadi meskipun beda jadwal perkuliahan.
Tak seperti halnya di sini, memang tak ada alasan mengapa orang-orang akan bisa terkumpul.
(Jika di pesantren, alasan santri-santri bisa terkumpul pada saat makan bareng di kamar, shalat berjama'ah di masjid, mengaji Al-Qur'an, belajar ilmu-ilmu agama (diniyah), dan sebagainya.)
Sebenarnya ada sebuah ruangan lesehan untuk menonton televisi, tapi kini televisi tersebut telah diambil oleh pemilik kost.
Tak ada tempat yang bisa digunakan untuk berkumpul.
Sedangkan selain itu, tak ada tempat lain yang bisa digunakan untuk bersantai.
Itulah kendalanya.
Di sisi lain, individu yang sulit berinteraksi juga menjadi kendala.
Mereka biasanya menganggap, sekedar mengenal penghuni lain saja sudah cukup.
Tak perlu hingga perlu berbaur dengan yang lain.
Anggapan inilah yang akan membentuk sikap invidualis.
Kurangnya kesadaran akan pemahaman makna hidup bersama, penyebabnya.
Di sini.
Kita sebagai seseorang yang selalu menginginkan interaksi baik dalam hubungan sosial,
perlu menyiasatinya.
Jika hal-hal di atas adalah penyebabnya.
Maka kita bisa mencoba untuk memulai perbincangan ringan (basa-basi) sebagai pencair kekakuan, untuk pembiasaan berkomunikasi.
Ajaklah mereka terlibat, atau setidaknya menyaksikan sesuatu yang umum dilakukan di tempat tersebut.
Biasakan mendahului mengunjungi mereka, sekedar 'main-main'.
Jangan terfokus pada harapan, bahwa mereka akan mengajak kita untuk komunikasi balik.
Karena masih dalam tahap pembiasaan.
Oleh karena itu, mulailah pembiasaan dari diri kita sendiri.
Berinteraksi dengan baik.
Belajar komunikatif.
Lebih baik, jangan bersikap front agar lawan berinteraksi dapat mudah memahami cara kita.
Karena kecenderungan kesulitan untuk berkomunikasi adalah dari rasa ketidakpercayaan, yang bisa dinilai dari penampilan cara berbicara, dan cara bertingkah laku.
Utamakan tumbuhkan rasa kepercayaan untuk memudahkan berkomunikasi dalam interaksi sosial.
Interaksi perlu, namun bagaimana jika terdapat kendala saat akan memulai menjalin sebuah interaksi?
Maka kita yang harus menyiasati cara kita berinteraksi kepada orang-orang tersebut.
Bagaimana strateginya?
Flashback penulis dari masa SMA.
Pernah hidup di lingkungan pondok pesantren.
Rasa kekeluargaan sungguh tercipta di sini.
Namun ketika ada seorang atau sekelompok santri bersikap individualis, maka bersiaplah menghadapi kesulitannya sendiri. Misalnya saja, tidak mau makan bersama dalam 1 wadah, tidak mau meminjamkan setrika, atau bahkan tidak mau berbagi makanan (baca: pelit).
Model santri seperti ini kebanyakan akan dijauhi, dan saat mereka memerlukan bantuan tak banyak yang akan membantunya.
Santri-santri menganggap hal ini sebagai pelajaran untuk 'yang individualis'.
Mereka bahkan cenderung tidak terlalu akrab dengan orang-orang ini.
Namun seiring berjalannya waktu.
Kejelekan seseorang dengan individualisnya akan semakin berkurang, karena kesadarannya masing-masing.
Mungkin, mereka juga merasa tak nyaman dengan lingkungan yang tidak komunikatif.
Kemudian dengan sendirinya terciptalah interaksi yang baik.
Meskipun di pesantren ini sistem 'perkamaran' kurang mendukung, seperti satu kamar hanya cukup diisi oleh 4-5 santri.
Padahal sistem 'perkamaran' yang lebih efektif (biasanya dimiliki oleh pesantren besar dan pesantren salaf), sebuah kamar yang luas cukup diisi 20-30 santri, bahkan lebih.
Tetapi hubungan sosial dalam lingkungan ini tetap terjalin dengan baik.
Karena mereka memahami makna hidup bersama, meskipun berada dalam lingkungan yang kurang kondusif akibat berkumpul dengan banyak orang dalam satu ruangan (tempat).
Lalu, apa yang ingin saya sampaikan dari cerita kecil di atas?
Pada interaksi sosial, komunikasi adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh pelakunya.
Namun di sinilah kendala yang sering terjadi.
Sulit untuk menjalin komunikasi yang baik.
Umumnya, seseorang jika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, sikap yang diberikan pada lawannya itu akan front (bersikap yang bukan sifat aslinya).
Misalnya.
Sebagai mahasiswa baru, ada orang-orang yang cenderung terlihat pendiam.
Padahal sejatinya mereka tergolong orang yang sanguis (periang, bersemangat, dsb).
Kebanyakan mereka melakukan hal demikian untuk menghindari kesan buruk pada perkenalan lingkungan barunya.
Atau sebaliknya, mereka akan bersikap ramah, suka bercanda, dan sebagainya, saat berada di lingkungan berbeda (misalnya, rumah) maka sifat yang dimunculkan akan berbeda.
Mungkin akan berubah menjadi seorang yang pendiam, bahkan bersifat antagonis.
Biasanya, saat mereka telah berbaur dengan lingkungannya, barulah terlihat sifat aslinya.
Hal ini sangat bergantung dari lingkungan sosialnya.
Selanjutnya lingkungan kost.
Penghuni baru akan cenderung menutup diri terhadap penghuni lain.
Meskipun telah tinggal cukup lama, mereka tetap akan sulit saling berbaur.
Misalnya. (pengalaman Saya)
Ketika memasuki lingkungan kost (untuk yang pertama kali), banyak harapan untuk bisa berbaur yang baik dengan penghuni lain.
Namun seiring waktu berjalan, tetap tidak ada perubahan interaksi yang baik antar penghuni kost.
Baik antara Saya - penghuni lain, maupun antar penghuni lain - penghuni lain.
Seringkali dijadikan alasan adalah jadwal kuliah yang berbeda-beda.
Sebenarnya jika ditilik lebih lanjut, ini bukanlah hal mutlak sebagai faktor penyebabnya.
Oleh karena di kost ini, tak ada kamar mandi tiap kamar, hanya ada 2 kamar mandi umum.
Secara tak langsung, harusnya tetap ada interaksi di sini karena tempat ini selalu digunakan bersama oleh penghuni-penghuni lain.
Lalu yang mengherankan, mengapa masih sulit terjadi interaksi?
Ternyata, hal itu tak cukup dikatakan sebagai kendala.
Struktur bangunan pun dapat menjadi kendala (mata kuliah : Psikologi Lingkungan).
Misalnya, bangunan kost yang berbentuk U sebagai center of activity in the kost akan lebih efektif dan cenderung tercipta suasana komunikatif.
Karena pasti interaksi akan selalu terjadi meskipun beda jadwal perkuliahan.
Tak seperti halnya di sini, memang tak ada alasan mengapa orang-orang akan bisa terkumpul.
(Jika di pesantren, alasan santri-santri bisa terkumpul pada saat makan bareng di kamar, shalat berjama'ah di masjid, mengaji Al-Qur'an, belajar ilmu-ilmu agama (diniyah), dan sebagainya.)
Sebenarnya ada sebuah ruangan lesehan untuk menonton televisi, tapi kini televisi tersebut telah diambil oleh pemilik kost.
Tak ada tempat yang bisa digunakan untuk berkumpul.
Sedangkan selain itu, tak ada tempat lain yang bisa digunakan untuk bersantai.
Itulah kendalanya.
Di sisi lain, individu yang sulit berinteraksi juga menjadi kendala.
Mereka biasanya menganggap, sekedar mengenal penghuni lain saja sudah cukup.
Tak perlu hingga perlu berbaur dengan yang lain.
Anggapan inilah yang akan membentuk sikap invidualis.
Kurangnya kesadaran akan pemahaman makna hidup bersama, penyebabnya.
Di sini.
Kita sebagai seseorang yang selalu menginginkan interaksi baik dalam hubungan sosial,
perlu menyiasatinya.
Jika hal-hal di atas adalah penyebabnya.
Maka kita bisa mencoba untuk memulai perbincangan ringan (basa-basi) sebagai pencair kekakuan, untuk pembiasaan berkomunikasi.
Ajaklah mereka terlibat, atau setidaknya menyaksikan sesuatu yang umum dilakukan di tempat tersebut.
Biasakan mendahului mengunjungi mereka, sekedar 'main-main'.
Jangan terfokus pada harapan, bahwa mereka akan mengajak kita untuk komunikasi balik.
Karena masih dalam tahap pembiasaan.
Oleh karena itu, mulailah pembiasaan dari diri kita sendiri.
Berinteraksi dengan baik.
Belajar komunikatif.
Lebih baik, jangan bersikap front agar lawan berinteraksi dapat mudah memahami cara kita.
Karena kecenderungan kesulitan untuk berkomunikasi adalah dari rasa ketidakpercayaan, yang bisa dinilai dari penampilan cara berbicara, dan cara bertingkah laku.
Utamakan tumbuhkan rasa kepercayaan untuk memudahkan berkomunikasi dalam interaksi sosial.
0 comments:
Post a Comment
Be a good commentators
Tell me if there is something wrong with this post