Dua minggu yang lalu,
aku dikunjungi oleh seorang ibu-ibu.
Menawarkan jasa melulurkan tubuh dengan ramuan racikan beliau sendiri.
Sebenarnya aku sudah tertarik untuk membeli jasa beliau dari kemarin.
Seingatku isi dompetku masih cukup untuk membayar dan kebetulan kuliah pagi itu diliburkan.
Jadi aku ambil saja tawaran tersebut dengan membayar Rp25 ribu untuk sekali lulur.
Selama aku dilulur, sering ku ajak beliau berkomunikasi.
Lebih banyak beliau bercerita tentang profesi saat ini.
Hingga aku mengerti bahwa beliau ternyata tak bisa membaca tulisan (buta aksara).
Karenanya beliau tak memiliki handphone untuk berkomunikasi.
Ditunjuki tentang daerah letak rumah beliau, aku tak mengenal daerah tersebut (meskipun masih dalam satu kota).
aku dikunjungi oleh seorang ibu-ibu.
Menawarkan jasa melulurkan tubuh dengan ramuan racikan beliau sendiri.
Sebenarnya aku sudah tertarik untuk membeli jasa beliau dari kemarin.
Seingatku isi dompetku masih cukup untuk membayar dan kebetulan kuliah pagi itu diliburkan.
Jadi aku ambil saja tawaran tersebut dengan membayar Rp25 ribu untuk sekali lulur.
Selama aku dilulur, sering ku ajak beliau berkomunikasi.
Lebih banyak beliau bercerita tentang profesi saat ini.
Hingga aku mengerti bahwa beliau ternyata tak bisa membaca tulisan (buta aksara).
Karenanya beliau tak memiliki handphone untuk berkomunikasi.
Ditunjuki tentang daerah letak rumah beliau, aku tak mengenal daerah tersebut (meskipun masih dalam satu kota).